Istiqomah Membawa Berkah


Hidup terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Namun, janji Allah adalah pasti.
Put our trust in Allah and depend on Him.

Ya! Janji Allah adalah pasti, dan saya menyaksikannya, merasakannya, mengalaminya.

Kali ini saya ingin berbagi cerita baru dari pengalaman pribadi sekaligus juga belajar dari pengalaman orang lain. Mungkin tidak seberapa, tetapi belum selesai menulis cerita ini sampai selesai saja, saya sudah merasa terharu. Kenapa sih kok sampai terharu segala? hehehe.. 😀 Monggo dibaca sampai tuntas ya. Semoga menginspirasi dan bisa jadi pelajaran bersama.

Prologue
Pendahuluan

Sesuai judulnya, ini adalah cerita yang terinspirasi dari seorang teman yang — menurut pandangan saya — sangat istiqomah dalam ibadahnya. Selama ini saya belum pernah merasa berada dekat sekali dengan orang yang ketaatannya dalam beribadah sampai membuat saya terinspirasi seperti ini. Ya, saya tahu, banyak sekali di luar sana orang-orang yang sama seperti teman saya ini. Tapi, bagi saya pribadi, teman saya satu ini menjadi salah satu yang spesial karena benar-benar saya saksikan sendiri kesehariannya, lika likunya (walau tidak semua pastinya), hingga sampailah ia pada kesuksesannya. Sungguh, kalau saya berkaca darinya, dia sangat memotivasi dan menginspirasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan lebih baik lagi, terutama dalam beribadah. Semoga cerita ini bukan termasuk riya’ ya… saya hanya ingin pengalaman memiliki teman yang sungguh menginspirasi saya ini, bisa juga menjadi inspirasi orang lain (walaupun tidak kenal langsung, hehehe :)), dan memotivasinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah. Inshaa Allah. 

The Perks of Living Together
Manfaat Hidup Bersama

Tinggal jauh dari orang tua, yang kemudian harus tinggal bersama orang lain yang tidak dikenal sebelumnya, merupakan hal yang sangat jauh dari zona nyaman saya. I got anxious at first. Pikiran-pikiran tentang bagaimana saya bisa tinggal bersama dengan orang lain atau apakah saya akan merasa nyaman tinggal dengan orang-orang “asing” ini, selalu menjadi momok di awal masa studi saya di luar negeri (Taiwan). Sebagai orang yang introvert, tinggal di kamar dengan beberapa orang bukanlah hal yang saya sukai. Belum lagi kalau kebiasaan roommates tidak sama dengan kebiasaan saya. Wah! Saya bisa stres berat! Hahaha! 😀

Turning Bad Habits into Good Ones
Mengubah Kebiasaan Buruk Menjadi Kebiasaan Baik

Bertemu dengan orang-orang baru, dengan beragam kebiasaannya, membuat saya belajar untuk lebih memaklumi orang lain yang mungkin kebiasaannya tidak sesuai dengan kebiasaan saya. Ya, belajar memaklumi karena kita tidak tinggal sendirian, kita tinggal bersama dalam satu atap, bahkan satu kamar sharing di asrama. Saya awalnya adalah orang yang sangat kaku dan sensitif sekali terhadap segala sesuatu yang tidak cocok dengan idealisme saya. Tetapi, alhamdulillah, saya masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya perlahan sadar bahwa tidak selamanya kaku, sensitif, dan idealis itu baik. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula menurut orang lain, begitu pula sebaliknya. Demikian akhirnya saya menjadi lebih santai menanggapi sesuatu yang kurang sreg di hati.

Selain itu, dengan tinggal bersama orang lain, saya juga bisa belajar dari kebiasaan-kebiasaan baik mereka. Salah satu contohnya nih, saya dulu adalah orang yang suka sekali mengoleksi pernak pernik lucu. Sampai akhirnya saya tidak punya tempat lagi untuk menyimpan barang-barang tersebut. Bisa dibayangkan betapa penuhnya meja kamar saya? hahaha, malu banget deh! 😛 Sampai suatu ketika, saya mendapatkan tamparan pertama. Saya menemukan meja kamar beberapa teman saya (termasuk meja kerja di lab juga) sangat bersih, rapi dan minimalis. Meja menjadi enak dipandang karena tidak dipenuh pernak pernik (yang sebenarnya useless) seperti saya.

Ya Allah! Meja cewek itu harusnya rapi seperti ini. Kenapa mejaku kontras sekali? Berantakan sekali!”, pikirku setiap kali melihat meja orang lain yang lebih bersih dan rapi. 😀

Meja yang bersih, selalu membuat saya semangat bekerja lagi. Sedikit demi sedikit saya mulai mengurangi kebiasaan mengumpulkan pernak pernik yang nggak penting. Saya lebih berusaha melihat barang dari tingkat kebutuhannya, bukan dari tingkat kelucuan dan keunikannya. Alhamdulillah, perlahan menjadi kebiasaan baru. Selain itu, saya juga bisa lebih berhemat karena tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang kurang fungsional. Belum sempurna memang, tetapi setidaknya saya sudah berhasil mereduksinya dan masih terus berusaha memperbaiki lagi. Alhamdulillah. Bismillah semoga bisa istiqomah.

Cultivate a Habit of Praying
Menumbuhkan Kebiasaan Beribadah

Hal lain yang menjadi salah satu manfaat terbesar yang saya rasakan dari tinggal bersama adalah belajar menumbuhkan kebiasaan beribadah. Sejujurnya, saya orang yang biasa-biasa saja dalam beribadah. Tidak jarang saya malu dengan teman-teman lain yang ibadahnya sudah jauh lebih baik daripada saya. Ya, jujur saja, awalnya memang merasa malu dengan teman-teman, padahal seharusnya lebih malu dengan Allah Sang Pencipta, karena kepadaNya-lah kita akan kembali. Alhamdulillah itu hanya awalnya saja, lama kelamaan saya bisa mulai membenahi niat. Beribadah bukan karena agar terlihat baik dimata manusia lain, tetapi beribadah semata-mata untuk Allah. Saya bersyukur sekali, sekolah jauh-jauh dari rumah, tapi masih dikelilingi sesama perantau yang rasanya sudah seperti keluarga. Terlebih lagi, secara tidak langsung, dengan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan baik mereka, hal tersebut bis menjadi pengingat bagi saya untuk memperbaiki banyak hal, terutama menjadi pengingat untuk mendekatkan diri dengan Allah. Alhamdulillah Allah memberikan saya sedikit demi sedikit kesadaran akan pentingnya hubungan manusia dengan Tuhan-nya.

d0a8e5726705097a4347d75656253f3a

Sebagai seorang perantau di luar negeri, berjuang menyelesaikan studi di luar zona nyaman kita, membuat perjuangan dan kelelahan dalam menjalaninya menjadi suatu beban yang nyata rasanya. Salah satu alasannya adalah karena perbedaan budaya kerja kerasnya kalau dibandingkan dengan budaya kerja di negara asal. Perbedaan budaya kerja keras tersebut  tidak jarang membuat saya merasa putus asa di tengah perjalanan. Tetapi, lingkungan (pertemanan) sekitar saya membuat saya tertampar untuk kedua kalinya. Tertampar dan tersadar bahwa kesulitan apapun yang kita hadapi, hendaknya tetap berserah diri pada Allah. Tidaklah melupakan ibadah. Segala yang bisa kita lakukan hanya bertawakkal dan berdoa, memohon perlindungan dan pertolonganNya. Allah-lah yang pada akhirnya akan menentukan segala hasil dari jerih payah dan kesusahan kita. Allah-lah yang pada akhirnya menjadi satu-satunya penolong kita saat kita berada diambang keputusasaan.

Get to Know My Friend, Ruby
Mengenal Teman Saya, Ruby

Nah, sampai akhirnya saya mengenal Ruby dan bertahun-tahun tinggal bersama di asrama sekolah. Anyway, nama Ruby hanya nama samaran aja ya. 😉

Janji Allah adalah pasti.
Put our trust in Allah and depend on Him.

Mungkin inilah yang menjadi pegangan teman saya itu.

Saya nggak pernah berdiskusi langsung dengan Ruby tentang apapun perkara hidupnya dan ibadahnya. Biarlah itu menjadi urusan masing-masing dengan Sang Pencipta. Tetapi yang saya lakukan adalah hanya dengan memperhatikan kebiasaan dan kesehariannya. Selayaknya manusia pada umumnya, saya tidak bilang Ruby adalah sosok sempurna, tentunya ada pula kekurangannya. Tapi disini, saya hanya ingin bercerita tentang sisi baiknya yang sanggup membuat saya terinspirasi dan termotivasi.

Ruby, setiap harinya hampir selalu bangun paling pagi dibandingkan saya. Ia bangun sebelum memasuki waktu subuh, mengambil air wudhu, dan menjalankan sholat malam. Terkadang setelah sholat malam pun, ia masih menyempatkan santap sahur untuk berpuasa sunnah. Memasuki adzan subuh, ia kembali mengambil air wudhu, dan bersiap membangunkan saya untuk menunaikan sholat subuh. Seraya menunggu saya mengambil air wudhu, ia menjalankan sholat sunah qabliyah subuh. Setelah saya selesai berwudhu, kami langsung menjalankan sholat subuh berjamaah. Sholat berjamaah menjadi kebiasaan baru bagi saya selama saya menjalankan studi di luar negeri ini. Awalnya saya merasa agak aneh karena sholat berjamaah itu di luar kebiasaan saya. Namun, lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan dan terasa nikmatnya. Alhamdulillah, saya mendapatkan pelajaran akan kenikmatan sholat berjamaah.

Setelah sholat subuh, Ruby menyempatkan diri untuk membaca al-quran, sebelum akhirnya ia pergi mandi dan bersiap berangkat ke lab untuk mengerjakan kewajiban-kewajibannya sebagai mahasiswa termasuk mengerjakan risetnya.

Di sela-sela aktivitas risetnya, Ruby selalu berusaha melaksanakan sholat fardhu-nya di awal waktu. Seketika waktu sholat tiba, ia langsung bergegas pergi menuju mushola. Tidak lupa ia menyertainya dengan sholat-sholat sunnah rawatib, dan berdoa setiap kali selesai melaksanakan sholat fardhu. Aktivitas hariannya berakhir setelah menyelesaikan sholat isya (dan sholat sunnahnya). Kalau tidak lapar di malam hari, ia akan segera naik ke tempat tidur dan bersiap untuk tidur dan beristirahat (kira-kira pukul 9-10 malam), kemudian akan kembali bangun di 1/3 malam terakhir untuk melaksanakan sholat malam. Jadwal Ruby sangat teratur sekali, dan yang terpenting adalah ia konsisten dan istiqomah melakukannya. Subhanallah. Bagi yang tidak terbiasa, bisa terbayang betapa beratnya godaan untuk tetap tidur di 1/3 malam terakhir dibandingkan berusaha untuk bangun dan menjalankan sholat malam.

Rutinitas tersebut dilakukan Ruby hampir setiap hari. Saya mulai memperhatikan Ruby dan kesehariannya karena saya adalah tipe orang yang sangat mudah terbangun dan sensitif terhadap suara. Setiap kali Ruby mulai bergerak turun dari tempat tidur, saya langsung terbangun dan kemudian sulit tertidur kembali. Lagipula, saya pikir tanggung karena sebentar lagi akan memasuki waktu sholat subuh. Awalnya, selagi Ruby beribadah, saya terjaga tanpa melakukan apa-apa sampai adzan subuh berkumandang. Namun, lama kelamaan muncul rasa penasaran, dan saya mulai mencoba mengikuti kebiasaan dan ritme aktivitas Ruby di pagi hari.  Alhamdulillah, Ruby menginspirasi saya untuk memperbaiki ibadah saya, dan lebih mempercayakan segala urusan dan menggantungkan harapan-harapan hanya kepada Allah. Belum sempurna, tetapi tetap berusaha untuk bisa istiqomah seperti Ruby. Inshaa Allah. 

Istiqomah Membawa Berkah

Sampai suatu saat saya terharu dengan proses perjuangan terakhir Ruby meraih gelar kependidikannya. Beberapa hari Ruby terlihat gelisah. Wajar, karena tentunya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tetapi, betapa istiqomah ibadahnya, saya membuktikan janji Allah untuk umatNya yang bertaqwa. Ruby melengkapi persyaratan kelulusan dalam waktu satu tahun terakhir yang kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian buku tugas akhirnya. Terhitung cepat. Tetapi seraya istiqomah beribadah, Ruby adalah seorang yang konsisten dalam belajar dan bekerja. Ruby sudah mulai mengerjakan tugas akhirnya sejak awal studinya dimulai. Sehingga, tahun terakhirnya bisa cepat diselesaikan. Saya hampir meneteskan air mata karena terharu ketika Ruby berkata bahwa ujiannya terasa mudah. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan menyulitkan maupun menjatuhkan. Kebanyakan hanya berupa saran-saran perbaikan. 

“Iya semuanya lancar banget. Kuat doa kayaknya. Lebih utama sepertinya karena kuatnya doa bapak dan ibuku”, kata Ruby yang seketika membuat saya terharu dan kembali tertampar.

Subhanallah. Saya tertampar untuk ketiga kalinya. Benar! Doa orang tua itu kuat. Yakin saja dan mintalah ridho kedua orangtua kita agar urusan-urusan kita diberikan kelancaran. Selain kita pun berikhtiar, berdoa, dan memasrahkan segalanya kepada Allah semata. Kita sebaiknya tidak melupakan kuatnya doa dan ridho orang tua untuk kelancaran urusan kita.

Saya akhirnya melihat raut wajahnya yang cerah dan tenang serta lega karena ujian telah berlalu dengan lancar. Sungguhlah seketika itu saya merasa, janji Allah itu pasti, nyata dan benar adanya. Selama kita mempercayakan segala urusan hanya pada Allah, dan bergantung hanya pada Allah, fokus istiqomah untuk beribadah, dan bertawakkal pada Allah. Pastilah Allah memberikan jawaban terbaiknya sesuai dengan waktunya. 

Ruby merupakan seorang teman yang sangat netral ketika saya mempercayakan diri untuk berbagi cerita dan keluhan akan kesulitan-kesulitan studi. Ia tidak pernah berhenti memberikan kata-kata positif agar saya tidak berputus asa dan tetap berpikiran positif akan rencana Allah. Ruby pun selalu mengingatkan saya untuk tetap bersyukur dan melihat hal yang lebih positif dari kejadian yang membuat saya menjadi pesimis dan cenderung berputus asaSaya benar-benar bersyukur kepada Allah, karena masih memberikan saya orang-orang yang menginspirasi, dan memotivasi, serta penuh support positif. Terlebih, karena melalui orang-orang seperti Ruby, saya terdorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Ruby, sekali lagi membuat saya menyaksikan bahwa keistiqomahan dalam beribadah, akan memberikan berkah. Berkah kemudahan, ketenangan, dan kelancaran untuk urusan-urusan dan ujian-ujian yang dihadapi dalam hidup kita. 

Epilogue

Thank you, Ruby for inspiring me.

Semoga kamu semakin sukses dan bahagia selalu.

Saya bersyukur sekali karena mengenal Ruby. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat hanya dengan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan baiknya, hingga akhirnya mencoba melakukannya, dan pada akhirnya merasakan nikmat dan manfaatnya. Inshaa Allah. 

Demikian teman-teman. Semoga bisa jadi inspirasi dan motivasi untuk kita bersama ya. 😉

See you on another story! Bye!
Best Regards,
cooltext202926253037621

 

2 thoughts on “Istiqomah Membawa Berkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s