Kebiasaan Menulis yang Miris


Halo!~

Ceritanya hari ini saya ingin berbagi pengalaman dan pandangan saya tentang keterampilan menulis. Saya bukan penulis profesional, dan bahkan masih jauh dari kata mampu untuk menulis dengan baik. Tetapi pengalaman yang ingin saya bagi di sini, juga merupakan suatu pengalaman yang membuat saya jadi berkaca, dan mencoba memperbaiki diri. Saya setuju dengan quote dari Andy Andrews:

Experience is not the best teacher. Other people’s experience is the best teacher.

Pengalaman saya kali ini terinspirasi setelah saya mencoba membaca tulisan ilmiah dari rekan saya. Kaget, namun sekaligus membuat saya mengevaluasi diri saya yang juga masih banyak sekali kekurangan.

Fakta yang perlu saya tekankan disini adalah kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki keahlian menulis dan tidak semua orang memiliki ketertarikan untuk menulis. Baik menulis artikel biasa dengan bahasa santai, maupun menulis artikel ilmiah. Menulis pada dasarnya menuangkan pemikiran kita ke dalam bentuk tulisan, sehingga kita bisa saling berbagi pengalaman maupun pengetahuan. Maka dari itu, tentunya menulis sesuatu untuk bisa dan mudah dipahami oleh pembaca juga merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat bisa memberikan efek yang baik maupun buruk. Semua tergantung pada bagaimana kita sebagai pengguna teknologi mengontrol dan memanfaatkan teknologi dengan cara yang baik dan benar. Salah satu perkembangan teknologi yang ingin saya sebutkan disini adalah penggunaan internet dan mesin pencari (search engine). Saya termasuk generasi yang menjadi saksi dari perkembangan teknologi internet. Bagaimana dulu internet baru dikenal dan satu-satunya cara untuk menjangkau internet adalah dengan pergi ke warung internet terdekat. Mengerjakan tugas sekolah tidak jarang sudah mulai membutuhkan banyak sumber-sumber jawaban yang tersedia via mesin pencari. Seiring berjalannya waktu, teknologi dimudahkan dengan berkembangnya penggunaan perangkat komputer ke dalam bentuk yang lebih portable seperti laptop. Ditambah lagi, internet sudah mulai bisa diakses dimana-mana melalui jaringan internal berupa wifi atau kabel LAN. Intinya, akses terhadap internet semakin mudah, dan jendela pengetahuan semakin terbuka sebagai alternatif dari buku-buku di perpustakaan. Pada akhirnya, mencari jawaban dari segala keingintahuan (curiousity) menjadi lebih mudah.

Termanjakan oleh Kemudahan Teknologi

Selama pengalaman saya sebagai asisten laboratorium untuk praktikum, sebagai dosen muda yang sesekali diundang untuk seminar proposal skripsi mahasiswa, dan juga sebagai seorang kandidat doktor di universitas tempat saya belajar sekarang, tidak jarang saya dihadapkan pada situasi dimana saya harus membaca sekaligus mengevaluasi tulisan-tulisan mahasiswa baik itu laporan praktikum, proposal skripsi, sampai dengan tesis mahasiswa master. Hal yang sering saya temukan dan saya sadari adalah bahwa kemampuan (skill) dan keinginan (willingness) mahasiswa untuk menulis sebuah artikel penelitian ilmiah masih sangat lemah. Tidak terkecuali saya. Namun, ada satu hal yang paling saya soroti dari pengalaman saya adalah budaya salin dan tempel (copy-paste) yang nantinya jadi berkaitan dengan istilah plagiat (plagiarism).

Plagiarism is a disrespectful act

Memang benar bahwa idak semua orang memiliki keahlian menulis dan tidak semua orang memiliki ketertarikan untuk menulis. Tetapi, plagiasi dari tulisan orang lain tentunya sangat tidak disarankan. Menghargai pemikiran orang lain dan mencatut pemikiran mereka dalam tulisan kita bukan tidak diperbolehkan. Namun, tentunya ada etika penulisan yang tidak boleh disepelekan. Ide itu mahal. We better to respect and appreciate it by putting a citation. Jangan sampai, hanya karena keterbatasan waktu maka pilihan untuk plagiat atau salin-tempel menjadi alternatif solusi. Memang komputer membuat proses menulis jadi lebih mudah, akses internet pun juga mudah.  Tapi ternyata kemudahan teknologi membuat generasi pada masa ini tidak sedikit termanjakan oleh teknologi. Salah satunya jadi mudah salin-tempel deh :P. Dalam opini pribadi saya, konsep salin-tempel dalam membuat suatu tulisan itu merupakan cerminan dari budaya malas. Formulasinya:

Malas membaca + malas berpikir + malas menulis kembali dengan bahasa baru = salin-tempel

Seandainya memang kita dihadapkan pada keterbatasan waktu, ingatlah bahwa pasti ada yang harus dikorbankan. Hal yang dikorbankan disini sebaiknya lebih ke tentang bagaimana kita melakukan manajemen waktu. Waktu terbatas tetapi banyak sekali yang harus diselesaikan, maka stay overnight (alias begadang) adalah hal paling umum yang akan dilakukan. Mengorbankan waktu tidur :D. Begadang pun nggak baik sih, tapi menurut saya daripada harus salin-tempel hanya demi menyelesaikan semua pekerjaan dengan instan dan cepat, sepertinya dalam hal ini menurut saya begadang masih lebih baik. 😛 Ini pendapat saya pribadi sih. Kalau ada yang berbeda pendapat dengan saya, nggak masalah. Bebas. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa menghargai tulisan orang lain dengan tidak sembarang melakukan plagiat adalah penting. 

Jam Terbang Menulis

Me while taking notes
Me while taking notes in a library 😀

Menulis termasuk salah satu keterampilan. Artinya, untuk bisa menulis dengan baik pasti dibutuhkan latihan dan jam terbang menulis. Semakin sering menulis dan membaca, pasti kualitas tulisan kita akan meningkat. Bagaimanapun, belajar itu tidak ada habisnya. Tetapi, lagi-lagi konsep yang penting dan perlu untuk selalu diingat adalah jangan malas! Jam terbang memiliki konsep yang sama dengan menabung. Masih berkaitan dengan section sebelumnya yang membahas plagiat. Konsep malas yang berakibat salin-tempel (hal instan) menurut saya konsepnya mirip dengan mencuri. Menabung yang benar adalah dengan konsisten mengisi tabungan dengan uang yang bisa kita sisakan setiap harinya tanpa malas. Lama kelamaan uang tabungan kita akan terkumpul banyak. Kalau ingin instan, mencuri uang orang lain saja, kemudian dimasukkan ke dalam tabungan kita. Beres! Tapi, mencuri adalah perbuatan yang tidak baik! Begitu pula dengan budaya salin-tempel.

Kembali ke jam terbang. Untuk bisa menulis ulang sebuah tulisan yang mungkin idenya terinspirasi dari tulisan orang lain, tanpa harus melakukan salin-tempel tentunya membutuhkan ekstra waktu. Waktu untuk mau banyak membaca, waktu untuk mau banyak berpikir untuk memunculkan ide-ide baru dan berbeda dari sumber inspirasi kita. Banyak membaca, maka banyak referensi gaya tulisan, dan banyak pengetahuan baru yang bisa kita share ulang. Tidak kalah penting, konsisten latihan. Banyak menulis secara tidak langsung melatih kita untuk terbiasa berpikir dan menuangkan pikiran ke dalam tulisan yang bisa mudah dipahami orang lain.

harry-potter
Source: CulturedVultures.com

Penulis terkenal seperti J.K. Rowling saja mengalami banyak sekali rejections atau penolakan sebelum akhirnya novel seri karyanya (Harry Potter Series.red) bisa mendunia. Bisa dibayangkan berapa banyak draft tulisan yang sudah dibuatnya. Ini hanya salah satu contoh bahwa hal baik tidak datang dengan mudah. Maka sebaliknya, hal yang didapat dengan cuma-cuma belum tentu benar-benar merupakan hal terbaik.

Nothing worth having comes easy. 

Kita perlu belajar untuk struggle dan sabar. Hal baik seperti kesuksesan tidak diraih tanpa kesakitan atau kesulitan. Sekalipun kita sudah merasa sukses, harus diingat bahwa:

Di atas langit masih ada langit. Tetap gantung mimpi tinggi di langit, namun jaga kaki untuk tetap berpijak di bumi.

Mari sama-sama berusaha untuk tidak mudah berpuas diri. Tapi tidak juga terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna. Tetap ingat untuk bersyukur atas hal sekecil apapun dalam hidup kita. Walaupun kita masih belum sempurna (bahkan tidak akan pernah sempurna) dalam menulis, tetapi setidaknya kita perlu untuk bisa menulis dengan bahasa dan tata penulisan yang mudah dipahami oleh pembaca.

Lagi, ini perlu latihan. 😀 Kumpulkan jam terbang. Menulis blog seperti ini merupakan salah satu cara yang saya pilih sebagai media untuk belajar menulis dengan baik. Jadi, harap maklum ya kalau tulisan saya masih dirasa jauh dari “baik” 🙂 Tapi, yuk sama2 belajar! 😀

Be a wise writer.

Sincerely,
cooltext202926253037621

3 thoughts on “Kebiasaan Menulis yang Miris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s