Belajar dari Waktu


Wah, hampir satu tahun berlalu sejak terakhir kali saya meng-update isi blog ini. πŸ˜€ Memang aktivitas saya setiap harinya begitu-begitu saja, tapi bisa juga dikatakan aktivitas saya sehari-hari terlalu menyita banyak pikiran. Sehingga ketika suatu waktu saya memiliki waktu luang, saya lebih memilih untuk mengistirahatkan otak saya dari membaca maupun menulis (riset). Tapi hari ini saya mengalami beberapa hal menarik yang membuat saya ingin berbagi sedikit cerita. Harapannya, cerita saya ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi, sekaligus pengingat bagi kita dalam menjalani hidup. Bukan ingin sok bijak atau sok dewasa. Hanya ingin berbagi, sekaligus menjadi pengingat setidaknya untuk saya sendiri, bahwa hidup itu memang akan lebih bermakna jika dijalani dengan pikiran yang lebih positif. Saya pun masih belajar untuk menyikapi segala sesuatu dengan lebih positif. Memang tidak mudah, tetapi bukan pula hal yang tidak mungkin. Selagi ada keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak pernah ada kata tidak mungkin ataupun sia-sia. Cerita saya ini murni dari pengalaman saya pribadi. Mungkin tidak sama persis dengan kehidupan yang dijalani oleh setiap orang, tapi semoga hikmahnya bisa kita jadikan pelajaran bersama.

Perbedaan Sudut Pandang

Sejak memulai untuk duduk di bangku sekolah (setidaknya SD), saya tidak pernah sekalipun berhenti sekolah, bahkan hanya untuk internship bekerja di perusahaan secara profesional. Sejujurnya, saya tahu persis bahwa pengalaman kerja saya secara praktik sangat minim. Tidak jarang orang meremehkan saya karena saya lack of work experiences, karena bagi mereka teori saja tidak cukup. Work yang saya maksud disini lebih ke bekerja secara profesional di perusahaan-perusahaan ya. πŸ™‚ Menurut saya pemikiran tersebut tidak salah. Tapi jalan saya seperti ini, mau gimana dong?

Tapi, hidup manusia tidak bisa hanya dipandang sesempit itu.

Hanya karena saya selalu sekolah, sekolah, dan sekolah, bahkan sampai jenjang yang menurut mayoritas orang (setidaknya sampai saat ini masih) terlalu tinggi dan dirasa tidak perlu. Bukan berarti saya tidak bisa memberikan manfaat di masyarakat kan? Setiap orang memiliki jalannya sendiri-sendiri, dan mereka memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menyebarkan manfaat. Bagi saya, pengalaman studi saya sejauh ini bukan tidak berharga sama sekali. justru saya merasa selain pengalaman menimba ilmu dengan segala intrik dan kesulitannya, saya banyak belajar tentang hidup, dan bagaimana pengalaman saya membuat saya berkembang dan bisa menyikapi hidup menjadi lebih baik (setidaknya untuk perbaikan diri saya sendiri).

Semuanya hanya masalah sudut pandang (point of view).

Saya memilih untuk selalu langsung melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan berarti saya melakukan kesalahan karena mengambil jalan itu. I do have my own reason. Setiap pilihan kita tentu ada risikonya. Salah satunya mungkin dengan kehilangan waktu untuk mencicipi pengalaman bekerja secara profesional di perusahaan-perusahaan (apalagi perusahaan ternama). Bukan berarti saya tidak pernah merasa menyesal dengan pilihan yang saya ambil. Saya pun manusia biasa, yang masih suka sekali merasa tidak puas/ tidak bersyukur. Saya pernah merasa menyesal kenapa saya tidak bekerja saja ya seperti orang-orang kebanyakan? Bisa punya penghasilan dan menabung untuk masa depan, sedangkan saya, menginvestasikan waktu bertahun-tahun hanya untuk studi tanpa penghasilan apapun. Menabung untuk masa depan pun semacam sulit. Bisa, tapi tentunya tidak sebanyak mereka-mereka yang bekerja.

Lalu kemudian saya merenung, berpikir. Kalau saya terus-terusan berpikir demikian, maka saya akan semakin merasa banyak kurang ini itu dan sulit bersyukur. Sulit bersyukur akhirnya jadi merasa tidak bahagia. Memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang lain itu tidak ada salahnya. Tetapi, yang paling penting adalah memandang dengan mindset yang selalu positif itu lebih baik. Contohnya, saya akan selalu merasa diri saya tidak beruntung atau tidak lebih baik daripada kehidupan orang lain jika saya terus membandingkan diri saya dengan orang lain yang lebih baik (setidaknya menurut pandangan saya). Sementara terbutakan oleh pandangan itu, saya kemudian lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang mungkin ingin sekolah tinggi dan bercita-cita menjadi lebih pintar dengan sekolah tinggi, namun tidak memiliki dana ataupun kesempatan mendapatkan beasiswa studi. Akhirnya, saya jadi lupa bersyukur. Lupa bahwa setiap orang memiliki waktunya dan rezekinya masing-masing. Sekecil apapun itu, tetap berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif, dan bersyukurlah. Kita masih bisa bernafas sampai saat ini saja sudah suatu hal yang patut kita syukuri. πŸ™‚

Investasi Waktu

Menyadari bahwa setiap orang memiliki rezekinya masing-masing memang tidak bisa instan. Saya pun mulai merubah pikiran saya setelah saya mengalami depresi (mungkin terkesan berlebihan, tapi saya sejujurnya pernah merasa stress berat karena merasa tidak sukses hanya karena saya membandingkan diri saya dengan orang lain di luar sana yang menurut saya lebih sukses).

Mental health somehow is a serious and a scary thing.

Saya bersyukur karena saya masih bisa kembali dan mencoba ikhlas dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya. Sudah 5 tahun saya menjalani studi saya di Taiwan sejak mendapatkan kesempatan untuk program dual-degree master di Indonesia dan Taiwan, dan kemudian melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Selama itu pula saya menjadi saksi berita-berita suicide yang terjadi di Taiwan. Kebanyakan dari mereka stress dan depresi karena merasa tidak bisa melakukan yang terbaik atau merasa tidak sukses. Sisanya, ada pula yang depresi karena putus cinta. Lucu? Kadang-kadang iya. Tapi bagi saya tetap mengerikan.

Tidak sedikit orang-orang di sekitar saya masih meremehkan saya dan menilai bahwa studi di negara formosa ini tidak keren. πŸ˜€ Bagi saya itu lucu. Saya bersyukur karena pikiran saya tidak sesempit itu. Setidaknya saya bersyukur karena diberikan kesempatan untuk mengenal dunia lebih luas dan belajar untuk memandang sesuatu dengan lebih open-minded. Negara formosa ini memang negara kecil, apalagi bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi, mereka jauh lebih open minded dibandingkan kita. Bagi saya, studi dimana saja tidak ada masalah. Sejujurnya saya merasa saya belajar banyak sekali hal yang tidak hanya melulu tentang ilmu dan teori-teori dari buku-buku atau artikel-artikel ilmiah. Saya benar-benar belajar banyak tentang bagaimana menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih positif. Supaya bisa lebih bahagia tentunya. πŸ˜€

Sampai saat ini, menginvestasikan 5 tahun saya di Taiwan untuk studi sejujurnya bukan hal yang mudah. Jauh dari keluarga adalah hal terberat yang saya rasakan. Merasa belum bisa menghasilkan apa-apa selama 5 tahun disini, bukan tidak mungkin membuat saya stress bahkan depresi. Saya seringkali merasa tidak cukup qualified untuk meraih gelar doktor saya. Bagaimana tidak? Setiap hari saya habiskan membaca research papers, mengerjakan beberapa manuscripts untuk dimasukkan ke dalam international journals sebagai syarat kelulusan, tapi masih belum juga bisa memenuhi syarat untuk lulus. Manusia pasti ada bosannya. Seberapa jauh kita harus struggle itu tidak ada standar-nya. Semua penuh ketidakpastian. Satu-satunya hal yang harus saya lakukan adalah ikhlas dan terus berusaha tanpa lelah.

Ikhlas.

Tawakkal.

Manusia hanya bisa berusaha. Tuhan yang menentukan.

Bicara itu mudah, tetapi sulit dilakukan. Sulit memang. Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai pada masa dimana saya memutuskan untuk ikhlas dengan rencana Allah. Menyerahkan hasil dari segala upaya pada Allah. Walaupun masih naik turun (kadang-kadang masih pesimis dan sedih jika hasil tidak sesuai ekspektasi), tapi saya berusaha selalu percaya bahwa semua indah pada waktunya masing-masing. Berusaha, berusaha, berusaha.

Orang yang belum mengalami posisi saya (atau yang setidaknya mirip), pasti merasa apa yang saya katakan ini sok bijak. Tidak apa-apa. Karena setiap orang punya waktunya masing-masing untuk mulai mengerti tentang hidupnya. Waktu yang saya investasikan saya yakin akan memberikan hal positif bagi saya, in any way. Saya berharap suatu saat nanti orang-orang yang belum mengalami apa yang saya alami, tapi sudah pernah mendengar saya berbagi cerita dan pengalaman berharga tentang bagaimana kita merespon dan menjalani hidup, akan merasakan sendiri hikmah dan manfaatnya. Setidaknya untuk versinya masing-masing dan tentunya in a positive way.

Saya hanya ingin berbagi sudut pandang yang positif. Bersyukur sekali apabila bisa diterima dengan positif pula. Kalaupun tidak (atau belum), insyaAllah tidak apa-apa. Karena menerima suatu input untuk bisa dicerna dengan baik terkadang (bahkan seringkali) tidak bisa instan.

Good things take time.

Pada akhirnya saya berusaha yakin bahwa selama apapun waktu yang saya investasikan untuk meraih gelar doktor saya , pasti bisa memberikan manfaat bagi orang lain suatu saat nanti (cepat atau lambat). Terutama generasi muda di Indonesia, untuk bisa berpikir lebih terbuka, dan lebih baik. Saya pun, masih perlu belajar tentunya. πŸ™‚ Mohon doanya ya supaya bisa segera lulus dan berbagi hal bermanfaat ke depannya! πŸ˜€

Saya belajar mendewasa karena waktu, dan masih terus belajar.

Cerita lainnya yang tentang belajar dari waktu berlanjut ke artikel lainnya yaa.. mungkin continue to part 2, next time. πŸ˜€

 

Regards,
cooltext202926253037621

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s